Selamat Tinggal Konsumerisme?

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Dalam keseharian hidup kita, terkadang sulit sekali untuk berkata tidak pada hal-hal yang bersifat konsumtif. Hal tersebut mungkin disebabkan karena kita sulit menolak pada hal-hal yang sifatnya menyenangkan dan dapat memuaskan hasrat kita. Keinginan manusia terkadang jauh melampaui kebutuhannya. Sebagai contoh, keinginan untuk memiliki sebuah mobil dengan merek tertentu jauh melampaui kebutuhan sebuah fungsi mobil itu sendiri. Banyak kasus nyata yang sehari-hari terjadi dimana orang membandingkan mobil merek tertentu mempunyai kelas yang lebih tinggi dibandingkan mobil merek lainnya. Bahkan beberapa orang harus rela merogoh koceknya lebih dalam untuk membeli mobil yang bukan mobil “sejuta umat”, semata-mata hanya untuk menjaga gengsinya.

Pada perkembangan kehidupan manusia, gengsi memegang peranan penting dalam pemenuhan “keinginan” manusia. Banyak orang membeli mobil merek tertentu hanya demi gengsi agar dianggap lebih hebat dari tetangganya. Jika tetangga membeli peralatan elektronik terbaru dan tercanggih, maka kita mulai terpancing dan memutuskan untuk membeli yang lebih baik dari tetangga kita. Lalu siklus tersebut terus berlanjut tanpa henti hingga salah satu pihak ada yang jatuh karena masalah keuangan yang sangat rumit.

Apakah kita dilarang untuk bergaya dan dimanjakan dengan barang-barang mewah? Apakah kita tidak boleh bersenang-senang dan menikmati hidup? Apakah perencanaan keuangan mengajarkan kita untuk hidup pelit, kikir, dan anti konsumerisme? Harus ditekankan disini bahwa perencanaan keuangan tidak mengajarkan kita untuk pelit. Perencanaan keuangan juga tidak melarang seseorang untuk bergaya dan bersenang-senang menikmati hidup. Semua “keinginan” tersebut boleh dipenuhi asalkan sudah direncanakan secara matang. Semua kebutuhan yang menjadi prioritas kita harus terpenuhi dan terencana dengan baik, sambil kita mempersiapkan pemenuhan “keinginan” kita. Ingatlah baik-baik bahwa “keinginan” itu tidak sama dengan kebutuhan. Kebutuhan wajib seperti dana pendidikan dan dana pensiun harus tetap menjadi prioritas utama kita dalam menyikapi pendapatan yang kita peroleh.

Misalkan anda mendapat rejeki nomplok yaitu berupa uang sebesar Rp. 300 juta dan anda memiliki hasrat yang kuat untuk membeli sebuah mobil, maka sebelum anda memutuskan untuk membeli mobil itu, anda harus melihat apakah anda sudah memiliki dana yang cukup untuk pendidikan anak atau persiapan dana pensiun anda. Umpamanya anda memilih opsi untuk membeli mobil yang lumayan mewah, sebuah sedan tipe sport seharga Rp. 300 juta, dan anda belum punya dana untuk pendidikan anak atau dana pensiun yang cukup, apakah yang akan terjadi jika dalam beberapa tahun kedepan giliran anak anda yang mau masuk sekolah? Asumsikan anda tidak akan dapat lagi rejeki yang melimpah setelah anda membeli mobil tersebut, dan tiba waktunya anda butuh dana puluhan juta rupiah untuk uang masuk sekolah anak. Kemungkinan besar anda akan menjual aset yang anda miliki, mungkin saja mobil mewah yang anda miliki akan terpaksa anda jual dan diganti dengan mobil yang lebih murah. Hal serupa juga akan terjadi untuk kasus persiapan dana pensiun anda. Jika tiba waktunya anda pensiun, anda terpaksa menjual mobil tersebut karena tidak ada lagi penghasilan untuk biaya perawatan mobil tersebut.

Misalkan anda memilih opsi untuk menyisihkan sebagian dari uang tersebut untuk investasi pendidikan anak dan dana pensiun anda. Maka apakah yang akan terjadi? Di awal mungkin anda hanya akan memiliki mobil biasa seharga Rp. 100 juta saja, tetapi sisanya yang Rp. 200 juta yang diinvestasikan pada instrumen investasi yang benar, akan mampu menjadi modal yang cukup besar bagi persiapan dana pensiun, dana pendidikan, atau bahkan mampu membeli lagi sebuah sedan sport yang sekelas, dimasa yang akan datang. Anda tidak perlu lagi menjual aset anda untuk menutupi pengeluaran, bahkan anda dapat menambah aset baru! Semua dengan konsep perencanaan investasi yang matang.

Dari beberapa contoh kasus diatas, dapat diamati bahwa beberapa penyebab perilaku manusia yang sangat konsumtif, salah satunya adalah faktor gengsi demi gaya hidup dan kurangnya motivasi untuk mencapai tujuan jangka panjang yang lebih baik. Semua dilakukan demi tujuan jangka pendek saja, tanpa sadar bahwa hidup kita memiliki tujuan jangka panjang yang harus diperhatikan. Sanggupkah kita berkata tidak pada hal-hal sepele yang belum kita butuhkan saat ini? Sanggupkah kita berkata tidak demi tersedianya dana pendidikan terbaik untuk anak kita? Sanggupkah kita berkata tidak demi kesejahteraan kita dimasa pensiun? Kita harus sanggup berkata tidak untuk sementara, demi masa depan yang lebih baik!

BACA JUGA:

Tips Efektif dalam Mengambil Kredit Rumah (KPR)

Tips Menggunakan Kartu Kredit Dengan Bijak

Tips Mudah Menyikapi Bonus atau Rejeki Lebih

Login Form