Perencanaan Keuangan Pribadi atau Beli Unit Link?

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Sebelum saya mulai membahas masalah pelik yang tak berakhir antara pihak yang menyebut diri mereka sebagai Independent Financial Planner dengan pihak asuransi yang membela Unit Link, saya mulai cerita ini dari proses pelatihan perencanaan keuangan yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh suatu lembaga resmi standarisasi perencana keuangan yang ada di Indonesia. Para trainernya terdiri dari 5-6 orang yang punya gelar resmi perencana keuangan dan saat ini menjabat sebagai petinggi di beberapa perusahaan asuransi. Kebetulan kelas yang saya ikuti itu mayoritas 90% pesertanya adalah orang-orang asuransi yang mempunyai level cukup tinggi di perusahaan asuransi. Kondisi tersebut membuat saya mampu melihat konsep perencanaan keuangan dari kacamata para praktisi asuransi yang terkait dengan produk Unit Link.

Dalam suatu kesempatan baik itu di kelas atau pun saat jeda, saya menyempatkan diri bertanya dengan para trainer tersebut mengenai konsep Unit Link. Mereka semua mengatakan bahwa Unit Link adalah konsep perencanaan keuangan terbaik yang bisa ditawarkan oleh perusahaan asuransi. Karena di dalamnya mencakup semua unsur perencanaan keuangan yang diajarkan dalam pelatihan untuk menjadi seorang Financial Planner. Seorang klien yang membeli Unit Link akan mampu merencanakan masa depannya secara teratur, mulai dari dana pendidikan anak, dana pensiun, atau untuk sekedar investasi saja. Disamping itu pula hal terpenting yang jadi fokus utama adalah bahwa konsep proteksi berupa asuransi jiwa, asuransi kesehatan, maupun asuransi penyakit kritis juga sudah tercakup didalamnya. Para trainer tersebut menganalogikan Unit Link sebagai sebuah pasar swalayan atau supermarket moderen, dimana seseorang dapat merencanakan keuangan plus proteksi secara lengkap dan nyaman layaknya berbelanja di sebuah pasar swalayan moderen.

Dari cerita tersebut dapat diambil hikmah bahwa Unit Link sebenarnya adalah sebuah konsep perencanaan keuangan yang baik dan menawarkan kemudahan dan kenyamanan bagi para kliennya. Akan tetapi, kenyamanan dan kemudahan yang dianalogikan dengan pasar swalayan tersebut ada konsekuensinya. Coba kita bandingkan belanja di pasar swalayan dengan di pasar tradisional. Kita belanja untuk satu tujuan sama yaitu untuk membuat nasi goreng. Sebut saja si A belanja semua bahan untuk nasi goreng itu di pasar swalayan. Dia butuh uang Rp.100.000 untuk membeli semua bahan. Si A senang karena dia bisa belanja dengan nyaman dalam ruangan ber-AC tanpa berdesakan dan lantai becek penuh kotoran. Si B membeli semua bahan di pasar tradisional dengan biaya Rp.30.000. tentu saja si B tidak mendapat kenyamanan seperti yang di dapat si A. Lalu mereka sama-sama membuat nasi goreng dengan bahan yang sama dan bumbu yang sama serta teknik dan kemampuan memasak ala rumah tangga yang sama. Lalu bagaimana hasil nasi goreng tersebut? Bisa dipastikan bahwa hasil racikan nasi gorengnya hampir sama diantara keduanya.

Lalu apa yang bisa disimpulkan dari cerita nasi goreng tersebut? Si B yang belanja di pasar tradisional tersebut adalah analogi dari orang yang merencanakan keuangan serta asuransinya tanpa menggunakan Unit Link. Si B harus mengorbankan kenyamanan dan kemudahannya untuk merencanakan keuangannya dengan cara bergerilya mencari mana instrumen investasi dan asuransi yang memberikan hasil terbaik dengan biaya yang lebih murah. Hasil dan tujuan yang ingin dicapai relatif sama dengan si A yang menggunakan Unit Link. Kisah si B inilah yang menjadi dasar bagi para Independent Financial Planner untuk menanamkan kesadaran bagi masyarakat bahwa kita semua bisa merencanakan yang terbaik dengan biaya yang lebih rendah dan hasil yang lebih optimal.

Mulai masuk nih kepada perdebatan tiada akhir para ahli asuransi dengan para ahli Independent Financial Planner.  Para ahli asuransi menganggap bahwa Unit Link adalah instrumen perencanaan keuangan terbaik yang ada saat ini. Hal tersebut juga sebenarnya TIDAK dibantah oleh para perencana keuangan yang ada di Indonesia. Para perencana keuangan independen juga menganggap Unit Link sebagai suatu konsep perencanaan keuangan yang baik. Tapi apakah target market dan cara menjual Unit Link tersebut sudah sesuai atau belum di Indonesia? Faktanya adalah banyak para agen penjual Unit Link yang hanya berpikir untuk menjual saja tanpa mengetahui konsep perencanaan keuangan di balik Unit Link tersebut. Faktanya adalah kalau di luar negeri, seorang agen penjual Unit Link jika ingin menjual produknya, maka minimal agen tersebut harus memiliki gelar perencana keuangan resmi yang sama dengan gelar yang dimiliki oleh para perencana keuangan independen.

Apakah target market Unit Link juga sudah sesuai untuk diterapkan di Indonesia? Faktanya adalah, dengan biaya yang relatif lebih mahal tersebut para pengguna Unit Link yang ada di luar negeri lebih banyak adalah kalangan atas yang juga sudah memiliki asuransi jiwa lain yang sudah bisa meng-cover kebutuhan proteksi mereka. Dalam suatu kesempatan di kelas, para trainer tersebut menyatakan bahwa ada beberapa kondisi dimana Unit Link tersebut diperbolehkan atau sesuai. Kondisi tersebut antara lain Unit Link sesuai untuk nasabah yang telah memiliki proteksi asuransi yang cukup karena tujuan polis ini lebih kepada investasi. Tapi apakah hasil investasi lewat Unit Link itu optimal? Jawabannya lihat pada kinerja hasil investasi yang tercermin dalam Nilai Aktiva Bersih (NAB) nya, apakah optimal atau tidak itu bisa diukur secara matematis.

Setelah penjelasan secara luas diatas, kita masuk pada pembahasan yang lebih sempit lagi. Apa sih sebenarnya wujud dari Unit Link itu? Koq Unit Link punya nilai NAB seperti Reksadana? Sebenarnya Unit Link itu sangat mirip dengan Reksadana. Apa persamaannya? Keduanya sama-sama ditentukan dengan satuan yang disebut dengan UNIT. Kalau di Reksadana kita membeli per satuan Unit Penyertaan (UP), maka di Unit Link kita juga membeli per satuan Unit Link. Mirip bukan?

Unit Penyertaan (UP) ibarat selembar kertas yang kita beli sebagai bukti keikutsertaan kita dalam dana yang diatur dalam Reksadana. Nilainya tercantum dalam Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang merupakan pembagian dari Total dana yang dikelola dengan jumlah Unit Penyertaan. Jadi misalkan NAB hari ini per unit adalah Rp.1000, dan kita beli Reksadana dengan biaya Rp. 100.000, maka kita akan punya 100 Unit Penyertaan. Nilai NAB inilah yang senantiasa berubah dari hari ke hari disebabkan karena dana yang terkumpul dalam Reksadana akan diputar dalam instrument investasi seperti saham, obligasi, atau pasar uang. Jika perputaran itu menghasilkan laba, maka akan dibagi rata dengan prinsip bagi hasil ke dalam unit penyertaan yang beredar, sehingga NAB akan bertambah dan ini artinya nilai investasi kita dalam reksadana akan bertambah.

Lalu apa miripnya Reksadana dengan Unit Link? Prinsip pembelian per Unit pada Unit Link sama dengan Reksadana. Kita membeli Unit dengan NAB tertentu, lalu kita dapat sejumlah unit. Jika NAB bertambah akibat laba yang diperoleh dari hasil perputaran dana, maka hasil Investasi kita juga akan bertambah. Mirip reksadana bukan? Instrumen yang digunakan pun sama, yaitu saham, obligasi, atau pasar uang. Bahkan pada kenyataannya, banyak perusahaan asuransi dalam hal ini dana Unit Link yang dititipkan pada perusahaan sekuritas dalam bentuk Reksadana. Lalu apa Bedanya dengan Reksadana?

Dalam bahasa yang sederhana, pada Unit Link, sebagian dana yang kita setorkan untuk membeli Unit Link dialokasikan untuk membayar premi asuransi yang manfaatnya melekat saat kita membeli Unit Link. Misalkan dana yang kita setor sebesar  Rp. 500.000, maka sebagiannya dialokasikan untuk membayar premi asuransi jiwa dan kesehatan. Misalkan yang dialokasikan untuk asuransi jiwa dan kesehatan adalah Rp. 250.000, maka dana yang digunakan untuk membeli Unit Link adalah sebesar Rp. 250.000. Itu adalah sebatas contoh penyederhanaan saja, pada kenyataannya proses perhitungan dan alokasi dana pada Unit Link sangatlah kompleks, bahkan di luar negri ada pelatihan dan sertifikasi khusus untuk berurusan dengan masalah perhitungan tersebut. Tapi di Indonesia, semua agen diijinkan untuk menjual dan menawarkan Unit Link tanpa ada sertifikasi yang jelas.

Uraian diatas merupakan sebagian contoh mengapa investasi di Unit Link menjadi tidak optimal. Yang saya bisa ungkap juga adalah begitu banyak biaya yang tidak disampaikan oleh para agen Unit Link yang dapat membuat hasil investasi menjadi tidak maksimal. Mungkin di pembahasan lain saya bisa ungkap lebih jauh mengenai biaya-biaya yang ada pada Unit Link yang berkontribusi cukup besar dalam menggerus nilai investasi kita, termasuk komisi bagi para agen Unit Link yang besarnya cukup fantastis.

Jadi semuanya kembali kepada pribadi masing-masing. Konsep perencanaan keuangan pada dasarnya mengajarkan kita untuk disiplin dalam mengatur keuangan kita demi masa depan dan demi menghadapi berbagai ketidakpastian dalam hidup. Tujuannya sama, tapi jalannya berbeda. Hasilnya sama, tapi bagaimana cara kita meraciknya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita. Anda tinggal memilih mau meraciknya seperti apa? Baik Unit Link maupun Independent Financial Planner, keduanya sama-sama bertujuan membuat “Nasi Goreng” yang sama, akan tetapi biaya yang dibutuhkan untuk meraciknya sangatlah jauh berbeda. Kaya itu pilihan.. bukan takdir.

BACA JUGA:

Apa Itu Perencanaan Keuangan Pribadi?

Cara Mengatasi Defisit Keuangan Dengan Hutang

Cara Tepat Perhitungan Return Tahunan Investasi

Cara Menghitung Berapa "Harga Diri" Kita

Login Form