Cara Mudah Menabung dengan Reksadana

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Bing Beng Bang yuk kita ke Bank.. Bang Bing Bung yuk kita nabung.. Tang Ting Tung hei jangan dihutung.. Tau-tau kita nanti dapat untung..”. Kira-kira begitulah sepenggal lagu yang sudah sangat sering kita dengar tentang pentingnya menabung di Bank. Menabung memang penting, yaitu untuk menghimpun kekayaan kita agar bisa digunakan pada saat kita membutuhkannya. Akan tetapi pertanyaanya adalah apakah menabung saja cukup? Apakah dengan menabung di Bank akan mampu memenuhi semua kebutuhan kita dimasa depan? Jawabannya adalah tidak.

 

Kita sering mendengar ada ungkapan menabung di bank itu baik karena aman dan uang yang kita simpan akan berlipat ganda karena adanya sistem bunga. Bunga sebesar 2-3% per tahun, akan dibagikan langsung ke rekening kita tiap bulannya. Tapi apakah kenaikan uang kita sebesar itu mampu mengalahkan musuh terbesar kita yaitu inflasi? Jawabannya adalah tidak. Inflasi rata-rata tiap tahun di Indonesia adalah sebesar 7%. Apakah artinya itu? Uang yang anda simpan di bank yang akan naik sebesar 2-3% per tahun akan tergerus oleh inflasi yang sebesar 7%. Sederhananya begini, kenaikan positif 2% akan dikurangi dengan penurunan akibat inflasi 7% yang hasilnya adalah -5%. Artinya dengan menyimpan uang anda di bank, uang anda akan berkurang sebesar 5% tiap tahunnya. Dengan fakta tersebut, apakah anda masih menganggap menabung di bank itu justru akan untung? Yang kita dapat justru malah buntung.

Solusi dalam menghadapi inflasi adalah dengan menyimpan dana kita dalam bentuk investasi yang memiliki return atau bunga yang lebih tinggi dari pada inflasi. Salah satu instrumen investasi itu adalah Reksadana. Reksadana adalah sebuah portofolio investasi yang bisa terdiri atas saham, obligasi, atau pasar uang. Masing-masing reksadana memiliki tingkat return yang berbeda tergantung dari porsi masing-masing instrumen investasi yang digunakan. Contohnya Reksadana saham yang 100% portofolionya terdiri dari saham memiliki return yang lebih tinggi dibandingkan dengan Reksadana campuran yang portofolionya tidak murni 100% saham, tetapi dikombinasikan dengan obligasi dan pasar uang.

Reksadana dijual menggunakan satuan yang disebut dengan NAB (nilai aktiva bersih). NAB adalah sebuah nilai tertentu dari sebuah Unit Penyertaan (UP). UP inilah yang akan kita beli dan banyaknya UP yang kita miliki tergantung dari jumlah uang yang kita miliki untuk membeli Reksadana di harga NAB tertentu. Misal, sebuah Reksadana memiliki NAB saat ini adalah Rp.1000 untuk setiap Unit Penyertaan. Sementara dana yang kita miliki adalah sebesar Rp.100.000. Maka dana yang kita miliki akan dapat digunakan untuk membeli 100 Unit Penertaan di harga Rp.1000. Selanjutnya Unit Penyertaan yang kita miliki tersebut nilainya akan berubah-ubah sesuai dengan NAB dari Reksadana tersebut. Jika 10 tahun kemudian NAB per Unit Penyertaan sudah mencapai Rp.50.000, maka dana yang kita miliki akan menjadi Rp.50.000 dikalikan dengan 100 Unit Penyertaan, sehingga hasilnya menjadi Rp.5.000.000.

Pada prakteknya, investasi menggunakan Reksadana dapat dilakukan secara rutin tiap bulan dengan dana minimal Rp.100.000. Jika pada contoh di atas investasi hanya dilakukan satu kali saja di awal dan pada akhirnya menghasilkan Rp.5.000.000 dalam waktu 10 tahun, maka dapat dibayangkan besarnya dana yang kita miliki jika kita rutin menabung di Reksadana tiap bulan dengan hanya Rp.100.000 saja. Jika kita rutin menabung di Reksadana tiap bulan sebesar Rp.100.000, maka dalam waktu 10 tahun dana yang kita miliki akan menjadi sekitar Rp. 75 juta dengan asumsi tingkat return sebesar 30% tiap tahun. Sebuah angka return yang jauh mengalahkan angka inflasi.

Dengan potensi pertumbuhan uang yang sangat tinggi tersebut, investasi di Reksadana menjadi sebuah pilihan investasi yang sangat penting. Reksadana dapat dimanfaatkan untuk menghimpun dana pendidikan anak, persiapan pensiun, atau untuk memperbanyak jumlah aset yang kita miliki. Sebagai contoh, jika anda punya anak umur 1 tahun saat ini, artinya dia akan bersekolah dalam waktu 18 tahun dari sekarang. Jika biaya masuk Universitas saat ini adalah Rp.100 juta, maka biaya masuk Universitas 18 tahun lagi tidak akan tetap Rp.100 juta, melainkan akan menjadi sebesar Rp. 2,2 Milyar dengan asumsi kenaikan biaya pendidikan per tahun sebesar 20%. Ini adalah sebuah kenyataan pahit yang harus kita persiapkan demi pendidikan anak kita. Kita bisa memenuhi dana Rp.2,2 Milyar itu dengan dua cara, yaitu menabung di Bank atau menabung di Reksadana. Jika kita memutuskan untuk menabung di Bank delama 18 tahun, maka kita butuh dana sekitar Rp.9,4 Juta per bulan untuk disetor ke Bank. Akan tetapi jika kita menabung di Reksadana, kita hanya butuh menyetor sekitar Rp.350.000 tiap bulan untuk membeli Reksadana untuk dapat mengcover dana pendidikan sebesar Rp.2,2 Milyar tersebut. Ringan bukan setorannya? Hal yang sama dapat juga dilakukan untuk mempersiapkan dana pensiun kita. Semakin awal kita investasi rutin per bulan di Reksadana, maka akan semakin ringan setoran kita untuk mempersiapkan dana pensiun kita.

Satu hal yang harus diperhatikan dalam pemanfaatan Reksadana untuk persiapan dana pendidikan dan pensiun kita adalah disiplin yang kuat. Disiplin untuk terus menerus secara berkelanjutan untuk menyisihkan dana investasi di Reksadana. Kalau targetnya adalah dana pendidikan anak 18 tahun dari sekarang, maka dana tersebut tidak boleh diambil untuk keperluan apapun agar hasil investasinya maksimal sesuai dengan yang kita harapkan. Demikian halnya dengan dana persiapan pensiun kita. Untuk itu perlu adanya perencanaan keuangan secara matang dan komprehensif agar kita mampu membagi dana yang kita miliki sesuai dengan peruntukannya, yaitu untuk investasi dan untuk keperluan sehari-hari. Sehingga pada prakteknya kita masih mampu memenuhi kebutuhan harian dan bulanan kita tanpa perlu menjual Reksadana yang kita persiapkan untuk dana pendidikan anak dan persiapan pensiun kita. Ingatlah motivasi dan tujuan anda investasi di Reksadana! Sehingga semua akan berjalan sesuai dengan rencana

BACA JUGA:

Perencanaan Keuangan Pribadi atau Beli Unit Link?

Cara Mudah Menumbuhkan Uang Kita

Sadari Bahaya Inflasi Sedari Dini

Login Form